Utilitarianisme dan Fenomena Geng Motor Yang Meresahkan



Utilitarianisme, sebuah aliran filsafat yang dicetuskan oleh Jeremy Bentham, memberikan pendekatan yang sederhana namun mendalam terhadap evaluasi moral suatu tindakan: “Apakah tindakan tersebut menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak?” Prinsip ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan dampaknya terhadap kesejahteraan atau kebahagiaan. Dalam konteks sosial, utilitarianisme menjadi relevan saat kita membahas fenomena geng motor yang semakin meresahkan.


Fenomena geng motor bukan lagi sekadar kumpulan anak muda yang menyalurkan hobi bermotor. Dalam banyak kasus, tindakan mereka melibatkan kebut-kebutan di jalan raya, perusakan fasilitas umum, hingga bentrokan yang menimbulkan ketakutan di masyarakat. Dampak dari perilaku semacam ini jelas bertentangan dengan prinsip utilitarianisme, karena lebih banyak penderitaan daripada kebahagiaan yang dihasilkan. Ketakutan pengguna jalan lain, kerugian materi akibat perusakan, hingga korban jiwa yang tak jarang muncul, menjadi bukti nyata kerugian yang mereka sebabkan.

Geng Motor dan Kebebasan yang Salah Dimaknai

Banyak anak muda dalam geng motor memaknai kebebasan sebagai kebebasan tanpa batas. Mereka sering beralasan bahwa perilaku mereka adalah bentuk ekspresi diri. Namun, kebebasan menurut Bentham tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan terhadap dampaknya pada orang lain. Kebebasan yang merugikan orang lain bukanlah kebebasan, melainkan tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Bentham menekankan bahwa setiap individu harus mengejar kebahagiaan pribadi tanpa mengorbankan kebahagiaan orang lain. Dalam konteks geng motor, kebahagiaan yang mereka cari melalui adrenalin kebut-kebutan atau solidaritas kelompok tidak dapat dijadikan pembenaran jika menyebabkan penderitaan pada masyarakat luas.
Marcadores:

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget